Player timbangdulu
Mind
Selisih kas tadi saya hitung sampai tiga kali, tetap sama. Baru ketemu setelah membaca catatan pengeluaran pelan-pelan, ada uang untuk keperluan rumah yang belum saya tulis. Tidak besar, tetapi saya sudah terlanjur curiga ada transaksi yang salah. Mengulang hitungan dengan cepat ternyata hanya mengulang bagian yang sama, bukan mencari yang belum dicatat. Saya beri halaman terpisah untuk uang rumah yang diambil dari kas, supaya tidak mengandalkan ingatan. Suami bilang dari dulu sudah menyarankan begitu, saya jawab iya, sekarang dilakukan. Masih ingin memeriksa sekali lagi sebelum tidur, walaupun angka sudah cocok. Buku sudah ditutup, mudah-mudahan tetap tertutup sampai pagi.
Body
Tangan terasa kasar sekali waktu membantu anak memakai baju. Ujung jari tersangkut sedikit pada kainnya, lalu anak bertanya kenapa tangan ibu begitu. Saya bilang habis kerja, bukan marah kepada dia, tetapi suara saya terlalu cepat. Setelah mandi saya baru duduk melihat telapak tangan, ada bagian kering yang selama di gudang tidak terasa. Krim pemberian adik masih ada, biasanya ingat kalau mau pengajian saja. Malam ini dipakai juga di rumah. Sambil menunggu meresap saya minta suami membukakan botol minum anak, tidak langsung mengerjakannya sendiri seperti biasa. Ternyata bisa menunggu sebentar tanpa ada urusan yang berantakan.
Emotion
Bapak tadi memuji cara saya menyelesaikan selisih timbangan dengan seorang pembeli. Cuma bilang sudah betul, sesudah orangnya pergi, tetapi saya senang sampai ingin mengulang ceritanya kepada ibu. Sebelas tahun pegang gudang masih saja menunggu kata begitu. Kalau bapak komentar harga tembaga saya cepat kesal, merasa dianggap belum bisa, padahal mungkin beliau juga hanya ingin tetap ikut bekerja. Saya tidak bilang semua pikiran ini kepadanya. Saya bawakan teh dan duduk sebentar, dengar ceritanya soal pelanggan lama. Buku belum selesai diperiksa, tapi untuk sekali ini saya tidak membukanya di tengah beliau bicara. Alhamdulillah, sore terasa lebih ringan.