Player tessatudua
Body
Sesudah acara saya duduk di teras sementara anak-anak muda menurunkan peralatan. Biasanya masih ikut mencari kabel yang belum masuk, tetapi malam ini pinggang terasa berat setiap berdiri. Saya biarkan mereka menyelesaikan dahulu. Angin kena telapak kaki setelah sandal dilepas, rasanya kepenak sekali. Telinga kanan masih berdengung, jadi ketika cucu berbicara saya minta ia duduk di sebelah kiri, jangan memanggil dari pintu. Ia malah menyandarkan kepala di lengan saya. Tangan yang tadi sibuk memegang mikrofon jadi diam cukup lama. Mas kernet datang membawa minum dan bertanya mengapa saya belum masuk. Sedang enak duduk, jawab saya.
Emotion
Cucu meminta saya yang mengetes mikrofon sebelum ia mengaji lagi, katanya kalau suara Mbah sudah keluar berarti alatnya benar. Saya senang mendengarnya, tetapi juga jadi lebih gugup daripada saat menghadapi penyewa yang banyak maunya. Anak kecil itu begitu percaya. Waktu ia mulai membaca, ada bagian yang diulangnya sendiri karena kurang lancar. Saya ingin membantu dari belakang mixer, padahal bukan giliran saya membaca, hehe. Setelah selesai ia langsung mencari saya, bukan menanyakan nilainya, hanya bertanya tadi terdengar atau tidak. Saya bilang terdengar jelas. Hati saya masih hangat sampai peralatan selesai dibereskan.
Mind
Si bungsu menunjukkan cara menyimpan pengaturan pada mixer digital. Saya mula-mula berpikir untuk apa, telinga tetap harus mendengar keadaan tempatnya. Tetapi ia menjelaskan bahwa yang disimpan hanya titik awal, bukan keputusan untuk seluruh acara. Itu baru masuk akal bagi saya. Saya jadi teringat Bapak memberi tanda kecil pada alat supaya mudah kembali ke posisi sebelumnya, rupanya keinginannya tidak jauh berbeda. Belum tentu kami membeli. Harga masih perlu dipikirkan dan alat lama masih bekerja. Namun brosurnya belum saya kembalikan kepada anak. Ada beberapa tombol yang ingin saya tanyakan, kalau ia tidak keburu menertawakan saya karena minggu lalu bilang tidak perlu.