Emotion
Teman pengajian mengabari kalau dia diterima kerja dan saya langsung ikut senang, sampai menawarkan bantu cari rute ke kantornya. Setelah pulang baru sedih sendiri, kok saya masih di posisi yang sama sementara orang lain sudah mulai punya cerita hari pertama. Rasanya malu karena tadi ucapan selamat saya tulus, tapi rasa iri ini juga nyata. Saya sempat mau membuka lowongan lagi supaya terlihat sedang berusaha, padahal yang ingin saya lakukan cuma diam. Ibu menanyakan acara tadi, saya cerita tentang teman itu dan mendadak suara saya mengecil. Beliau tidak memberi nasihat, cuma bilang boleh sedih, lalu kami tetap makan seperti biasa.
Body
Tadi naik KRL dapat tempat duduk dekat jendela, jadi baru terasa betapa capeknya berdiri sejak dari bengkel paman. Bahu langsung turun, tas saya pangku, dan kaki rasanya hangat sekali di dalam sepatu yang dipakai untuk wawancara. Padahal hari ini tidak ada wawancara, cuma merasa perlu keluar rumah dengan rapi supaya tidak seperti orang menunggu terus. Sampai rumah saya ganti sandal lalu duduk di dapur sambil minum air, ibu masih memotong sayur. Perut akhirnya minta makan juga, dari siang tadi seperti penuh padahal isinya sedikit. Enak bisa melepas jilbab dan menyandarkan kepala sebentar tanpa harus kelihatan siap menjawab pertanyaan.
Mind
Adik minta saya periksa hitungan uang kas kegiatannya, lalu protes karena saya bertanya asal setiap angka. Katanya totalnya kan sudah cocok. Saya jadi ingat waktu pertama membantu paman, saya juga merasa pekerjaan selesai begitu kolom terakhir seimbang, padahal ada uang yang masuk untuk pesanan yang belum dikerjakan. Sekarang saya bisa menikmati mencari selisih kecil begitu, seperti ada sesuatu yang jelas untuk ditemukan. Yang bikin kepikiran justru kenapa saya selalu menjelaskan pekerjaan di bengkel dengan kata cuma, cuma bantu paman. Kalau orang lain cerita hal yang sama mungkin saya akan bilang itu pengalaman. Di kepala sendiri tetap terasa seperti belum mulai.