Player nggihmonggo
Mind
Ada penelepon sepuh yg menanyakan petunjuk jalan berulang-ulang. Saya sudah menyebut nama jalan dengan jelas, tetapi beliau tetap bingung. Setelah bertanya biasanya lewat mana, baru saya dapat menjelaskan dari tempat yg dikenal beliau. Saya teringat dulu memperbaiki jaringan, orang menyebut rumah dekat pohon besar, bukan nomor rumah. Di komputer alamatnya lengkap, tetapi kepala orang menyimpan tempat dengan cara sendiri. Rekan muda bertanya kenapa percakapannya lama. Memang lama sedikit. Saya sedang memikirkan bagaimana memberi petunjuk yg lebih mudah sejak awal, supaya tidak perlu mengulang nama jalan yang belum pernah didengar.
Body
Pulang dari rumah sakit, saya melepas jaket sebelum duduk di pendopo. Di ruangan kerja jari terasa dingin, di rumah baru sebentar sudah hangat kembali. Ibu membawakan teh, saya memegang gelas dengan dua tangan sambil mendengar perkutut. Telinga kanan masih terasa bekas headset, jadi saya tidak menyalakan radio. Enak juga mendengar suara halaman tanpa ada orang yg harus segera dijawab. Ketika kakak memanggil dari belakang, saya berdiri pelan karena lutut berbunyi. Beliau sudah menyiapkan teh juga. Akhirnya gelas saya dibawa ke sana, supaya tidak minum dua kali. Duduk berdekatan begini badan lebih santai daripada duduk di depan komputer.
Emotion
Cucu menelepon untuk bercerita tentang temannya, bukan karena perlu dibelikan sesuatu. Saya senang sekali, walaupun nama teman-temannya beberapa kali tertukar dalam ingatan saya. Dia membetulkan dengan sabar lalu melanjutkan cerita. Biasanya saya yg panjang bercerita tentang pekerjaan dulu, hari ini giliran mendengarkan. Setelah selesai saya bilang kepada Ibu bahwa anak itu sudah besar, urusannya sudah banyak. Ibu tertawa, katanya memang bukan bayi lagi. Ya saya tahu, tetapi di telepon tadi terasa betul. Masih mau bercerita kepada mbahnya, itu yg membuat hati ayem. Semoga lain kali dia menelepon lagi tanpa menunggu hari libur.