Player lontongsayur
Body
Latihan paduan suara tadi enak kali, suara bass masuk serempak dan terasa sampai dada. Pagi di warung saya banyak bicara, kadang suara cuma keluar dari tenggorokan, tapi waktu menyanyi begini napasnya harus benar-benar panjang. Satu bagian saya kehabisan napas sebelum selesai, teman di sebelah ketawa karena saya biasanya paling keras. Ya keras belum tentu tahan lama! Pulang jalan kaki sebentar, badan hangat, perut minta makan lagi padahal sebelum berangkat sudah makan. Ruth bilang kalau menyanyi bikin lapar begini, anggaran beras harus dihitung ulang. Sekarang tenggorokan agak kering, saya minum air, masih ingin mengulang nada tadi tapi anak-anak sudah menyuruh jangan konser lagi di rumah.
Mind
Pelanggan lama bilang kuah sekarang beda dengan waktu kami masih pakai gerobak. Saya tanya beda bagaimana, dia jawab dulu lebih enak, selesai sudah penelitiannya! Saya ingat bumbu dan cara masaknya, banyak yang masih sama, tetapi waktu itu orang makan sambil berdiri atau duduk seadanya, lapar setelah dari pasar. Sekarang ada meja, ada pilihan, sempat menilai. Bisa juga memang ada yang berubah dan saya tidak sadar karena setiap hari mencicipi. Saya minta Ruth coba tanpa saya memberi komentar dulu, dia bilang kurang asin sedikit, bukan kurang masa lalu. Itu jawaban yang bisa dikerjakan. Pelanggan tadi tetap menambah kuah dua kali, jadi penilaiannya saya simpan bersama bukti lain.
Emotion
Anak sulung bantu melayani pelanggan dan ada ibu-ibu bilang caranya ramah seperti saya. Wah, senang saya dengar itu, langsung saya ulang kepada Ruth di dapur. Dia bilang bagus, asal jangan ikut kebiasaan bapaknya bicara panjang sampai makanan lupa diantar. Semua ketawa, anak saya juga. Rasanya ramai dan enak sekali pagi itu, padahal antrean panjang dan saya biasanya cepat kesal kalau ada yang lambat. Lalu anak bilang minggu depan mungkin tidak bisa bantu karena ada kegiatan sendiri. Saya hampir langsung bertanya kegiatan apa yang lebih penting. Untung pelanggan memanggil duluan. Masih terasa sedikit tidak suka, meskipun saya sendiri yang selalu bilang jangan merasa wajib meneruskan warung.