Body
Anak ketiduran di dada saya waktu kami tiduran di lantai. Awalnya enak, badan ikut lemas setelah seharian keliling sekolah, tapi lama-lama tangan kiri kesemutan karena jadi bantal kepalanya. Mau geser sedikit dia langsung bergerak, jadi saya diam lagi, kalah sama orang dua tahun. Punggung terasa dingin kena lantai, sementara bagian dada panas dan basah oleh keringatnya. Istri lewat cuma ketawa, katanya tadi siapa yang bilang main lima menit saja. Setelah anak dipindah ke kasur, saya luruskan tangan pelan-pelan, rasanya seperti ditusuk halus sampai jari. Sekarang sudah normal, tapi ngantuknya malah hilang. Anak tidur nyenyak, bapaknya yang duduk cari posisi lagi.
Emotion
Ada orang tua murid parkir tepat di depan gerbang, sudah diminta geser malah bilang cuma sebentar. Anak-anak harus lewat samping motornya dan saya yang mengatur satu-satu, dia tetap lihat ponsel. Mangkel rasanya, seperti suara saya cuma bunyi tambahan di halaman. Saya tidak bentak, tapi setelah dia pergi masih ngomel sendiri di ruang alat. Yang bikin tambah kesal, kalau guru yang keluar menegur biasanya langsung dituruti. Mungkin bukan karena seragam, entahlah, hari ini saya merasa begitu. Kopi sampai dingin belum diminum. Nanti sore kalau dia datang lagi saya tetap minta parkir di tempatnya, bukan karena mau menang, ya karena gerbangnya memang bukan tempat motor.
Mind
Istri ingin rak sepatu kecil di dekat pintu, saya langsung bilang bisa bikin dari papan sisa. Setelah diukur ternyata ruangnya sempit karena malam motor masuk juga, kalau raknya terlalu dalam pintu tidak bisa dibuka penuh. Dari tadi saya menggambar tiga bentuk di belakang amplop, padahal tinggal beli yang ramping mungkin selesai. Tapi kalau bikin sendiri bisa pas dan papan di bawah televisi akhirnya terpakai. Sepupu usul raknya digantung agak tinggi, masuk akal, asal tidak kena setang. Besok saya ukur lagi waktu motor sudah di dalam. Lucu juga, di sekolah bisa mengatur satu ruangan untuk rapat, di rumah kalah sama enam pasang sandal dan satu helm.