Mind
Mau kumpulkan saudara buat makan di rumah, tujuh orang dihitung gampang, begitu tambah suami istri anak cucu kok kursinya kurang semua! Saya tulis nama di belakang kalender, satu keluarga dicoret karena belum pasti lalu dimasukkan lagi karena kalau mereka jadi datang masa tidak ada nasi. Ibu dulu masak begini kelihatannya gampang, tinggal tambah air katanya, padahal yg ditambah pasti bukan air saja. Saya sudah punya menu tapi belum punya jumlah orang yg betul. Grup keluarga ramai stiker, pertanyaan hadir berapa orang tidak ada yg jawab lengkap. Nanti kalau makan habis, yg dimarahi tetap tuan rumah!
Body
Nyanyi di arisan tadi sampai dua lagu, yg pertama masih jaim lalu temannya minta lagi, ya wis tanggung! Baru sadar napas habis waktu harus tahan nada panjang, mulut sudah siap suaranya tinggal separuh hahaha. Pulang baju di punggung agak basah dan pipi panas, suami tanya habis lari apa, bukan lari Pak ini konser! Duduk di teras sambil kipas-kipas rasanya enak, kaki yg biasanya ingin cepat selonjor masih ikut ketuk irama. Tenggorokan kering, saya minum dulu sebelum cerita siapa yg fals. Katanya yg paling keras tentu saya, paling keras belum tentu paling fals lho.
Emotion
Si bungsu pulang bawa fotokopi lamaran, ditaruh di meja begitu saja lalu mandi. Saya langsung ingin tanya ke mana, diterima siapa, kapan dipanggil, sudah siap bajunya belum, tapi suami memberi tanda jangan dulu. Seneng sekali lihat kertas itu, juga gemes karena kemarin-kemarin kalau ditanya cuma diam! Waktu makan saya bilang lauknya ditambah, dia bilang tadi sdh makan di luar. Ya sudah, bukan lauknya yg penting sebenarnya. Pengen dia cerita sendiri, tapi mulut saya ini susah menunggu. Sampai malam saya cuma tanya perjalanannya panas tidak, jawaban panjangnya belum keluar juga.