Player karunglipat
Mind
Anak saya meminta satu rak kosong untuk barang dapur, jadi saya membuka tumpukan wadah yang saya simpan. Yang tidak ada tutupnya gampang diputuskan, bisa untuk menaruh pot kecil, tetapi ternyata pot kecil saya sudah punya tempat semua. Lalu saya menemukan tiga tutup yang cocoknya entah ke mana. Kalau melihat barang satu-satu selalu ada gunanya, kalau melihat seluruh rak memang penuh. Saya bisa memilih plastik yang masih kuat dengan cepat, memilih berapa banyak yang perlu disimpan itu yang lama. Kotak makan besi bekas kerja saya pindahkan dulu ke kamar. Itu tidak termasuk hitungan wadah dapur, saya sudah bilang begitu.
Emotion
Anak-anak sedang tertawa di meja makan dan saya ikut tertawa, padahal kalimat terakhirnya tidak terdengar jelas. Cucu saya bertanya apakah saya mengerti, lalu mengulang dengan suara keras sekali sampai semua orang menoleh. Maksudnya membantu, saya tahu, tapi saya jadi kesal dan bilang tidak usah teriak begitu. Sesudah itu mereka bicara lebih pelan, malah terasa seperti sedang menjaga orang sakit. Saya ingin ikut lucunya, bukan membuat satu meja berubah suasana. Akhirnya saya menyuruh mereka lanjut makan. Sampai piring dibereskan saya masih penasaran sebenarnya tadi yang lucu bagian mana.
Body
Waktu senam ibu-ibu tadi gerakannya memutar lengan pelan, tetapi saya ikut terlalu semangat sampai napas saya terdengar sendiri. Tetangga di sebelah masih bisa mengobrol, saya pilih diam dulu sambil mengikuti hitungan. Sesudah beberapa gerakan, telapak tangan terasa hangat dan bagian punggung yang biasanya kaku kalau baru bangun mulai enak digerakkan. Saya suka bagian ini, tidak perlu cepat-cepat dan tidak ada barang yang harus diangkat. Pas disuruh menekuk lutut dalam-dalam saya kurangi saja, lutut kanan sudah memberi tanda. Pulangnya saya masih jalan santai dengan mereka, bukan karena kalah, memang tidak sedang lomba.