Player kalengsekrup
Emotion
Anak bungsu membawa hasil gambar murid PAUD-nya dan menunjukkan mana yang katanya gambar Bu Guru. Kepalanya besar, badannya seperti lidi, rambutnya panjang sekali padahal rambut anak saya tidak begitu. Saya senang melihat dia tertawa menceritakan anak-anak itu, sampai lupa pertanyaan saya tadi tentang gajinya. Biasanya saya segera berpikir cukup atau tidak uangnya, pulang terlalu lelah atau tidak. Tadi rasanya ingin mendengar saja. Lalu dia bilang jangan dibuang, mau ditempel di kamar, seolah saya ini tukang membuang barang. Sedikit tersinggung juga, tetapi gambar itu sekarang saya taruh di tempat yang tidak kena air.
Mind
Saya sedang memikirkan cara membagi kunjungan ke Ibu tanpa membuat grup keluarga menjadi tempat saling menagih. Kalau cuma menulis siapa bisa datang, yang menjawab orangnya itu lagi. Kalau nama saya tulis satu-satu, adik bilang seperti daftar piket sekolah. Padahal yang perlu jelas sederhana, hari apa Ibu ditemani dan siapa yang membawa belanja, bukan siapa paling berbakti. Saya mau bertanya satu per satu dahulu sebelum menulis jadwal baru. Agak lama memang. Ibu sendiri minta jangan semuanya datang bersamaan hari Ahad, nanti hari Senin sepi, dan itu belum masuk hitungan saya kemarin.
Body
Sesudah Zuhur saya duduk sebentar di belakang toko, melepas sandal karena telapak kaki terasa penuh dan panas. Pegawai muda mengira saya ketiduran, padahal sedang menikmati lantai yang dingin. Kalau berjalan mengambil barang, pegalnya tidak terlalu terasa, justru setelah duduk baru ketahuan dari tadi kaki menahan badan terus. Saya gerakkan jari kaki di bawah meja, lalu tertawa sendiri karena ada bekas tali sandal putih sekali dibanding kulit sekitarnya. Lima menit belum selesai, pelanggan selang datang. Saya minta dia menunggu sebentar sampai sandal terpasang, tidak perlu bangun terburu-buru hanya karena orang lain berdiri.