Body
Gue ketiduran di KRL sambil berdiri bersandar dekat pintu, bukan sampai ambruk, cuma kepala turun lalu bangun gara-gara kereta ngerem. Sampai rumah malah susah tidur. Istri nyuruh mandi dulu, dan ternyata air yang kena belakang leher lebih bikin sadar daripada kopi terakhir di studio. Lama juga gue berdiri di bawah pancuran, nggak mikirin rundown atau durasi, cuma ngerasain airnya. Habis itu makan nasi hangat, bukan roti yang diremas di tas. Mata mulai berat pas anak cerita sesuatu dari sekolah. Gue minta dia ulang besok, takut jawab asal. Kali ini laptop di kamar belakang nggak dinyalain. Badan duluan tutup siaran.
Emotion
Anak gue yang kecil duduk di kamar belakang waktu gue beresin kaset, terus nanya mana yang suara gue. Biasanya dia masuk cuma buat pinjam kabel, jadi gue agak sok santai waktu buka satu episode podcast. Belum lima menit dia nanya kenapa gue ngomong beda kalau direkam. Katanya kayak orang jelasin museum. Lumayan pedas untuk anak sebelas tahun. Gue ketawa, dia ikut ketawa, habis itu malah minta dengar yang tentang radio zaman belum ada internet. Senang sih ada teman duduk di situ, meski dia terus pencet jeda buat tanya dan semua jedanya kena kalimat yang susah payah gue rapikan waktu editing.
Mind
Ada satu kaset tanpa label yang isinya bukan siaran bagus, cuma orang tes mikrofon lalu ngobrol sambil nunggu penyiar. Gue hampir masukin kotak kosong sebelum kedengaran nama warung dekat studio lama. Langsung ingat tempatnya, termasuk meja goyang yang selalu dikasih lipatan kardus. Lucu, arsip resmi acara itu sudah punya tanggal dan judul, tapi suara orang pesan makan ini nggak punya keterangan apa-apa dan justru bikin gue muter ulang. Sekarang gue tulis seadanya di sampul. Belum tentu perlu masuk podcast. Ada juga barang yang disimpan karena gue pengin dengar lagi, nggak semuanya harus berguna buat tujuh ratus orang.