Player canting
Emotion
Orang yang sedang dekat denganku bertanya soal motif buatanku, bukan cuma sudah makan atau belum. Aku senang, tapi malah menjawab pendek karena takut kalau terlalu banyak cerita nanti kelihatan berharap sekali. Dia minta lihat fotonya. Sudah kupilih satu yang bagus, lalu batal kukirim sebab garis di pojoknya kelihatan aneh kalau diperbesar. Bu Padmi bisa melihat kain yang jauh lebih susah dan aku tidak segugup ini. Mungkin aku ingin dia suka bukan hanya karena sedang mendekati aku. Rumit sendiri, padahal dia mungkin sedang menunggu sambil melakukan hal lain. Fotonya masih di layar, belum terkirim sampai sekarang.
Body
Pulang dari sanggar aku jalan agak pelan karena sandalku basah kena genangan, bunyinya lucu setiap menginjak tanah. Sampai rumah langsung ganti, lalu duduk di dekat jendela sambil minum jahe hangat. Telapak kaki akhirnya tidak lembap lagi, rasanya enak sekali sampai malas berdiri mengambil charger. Adik bilang jaraknya cuma dua langkah, ya silakan dihitung, tetap saja aku malas. Biasanya setelah duduk seharian membatik aku merasa harus bergerak terus di rumah, padahal kadang badan cuma ingin posisi duduk yang lain, tanpa kain di pangkuan dan tanpa menjaga canting supaya tidak menetes. Hari ini aku menikmati malasnya dulu.
Mind
Tugas kursus desainku meminta pola yang bisa diulang, dan ternyata membuat sambungannya rapi di layar beda sekali dengan mengisi kain. Di kain tanganku tahu kapan harus sedikit merapat, di layar satu jarak yang salah langsung muncul berkali-kali. Aku menonton bagian pelajarannya tiga kali, bukan karena sulit semua, tapi karena baru paham setelah mencoba dan gagal. Sempat terpikir mungkin aku memang lebih cocok pegang canting saja. Lalu lihat hasil teman yang juga masih berantakan, lega sedikit, maaf ya teman. Malam ini aku baru memperbaiki satu sambungan. Yang lain besok, baterai ponsel tinggal sedikit dan kepalaku juga.