Player angintimur
Body
Sesudah turun dari perahu tangan saya masih terasa bergetar, padahal mesin sudah mati. Paling terasa waktu pegang gelas di rumah, jadi saya taruh dulu dan duduk di depan pintu. Di laut saya tahu kapan harus ganti pegangan supaya bahu tidak cepat habis, tapi begitu ada hasil, sering lupa juga. Sitti melihat saya menggosok telapak tangan, disuruh makan sebelum dingin. Saya makan pelan karena rasanya badan masih ikut goyang. Anak mau berenang sore itu dan biasanya saya ikut, kali ini cukup duduk melihat dari dekat. Bukan sakit sampai tidak bisa jalan, cuma capek yang baru terasa jelas setelah tidak ada lagi tali yang harus ditarik.
Mind
Pagi tadi saya lama melihat perkiraan angin sebelum memutuskan tidak berangkat jauh. Bahan bakar sudah dibeli, itu yang membuat pikiran maju mundur, seakan uangnya baru rugi kalau perahu tetap dekat rumah. Padahal kalau memaksa pergi, bahan bakar terpakai juga dan belum tentu dapat ikan. Waktu Sitti bilang hitungannya bisa ditunggu sampai malam, saya baru sadar dari tadi saya mencampur keadaan laut dengan tanggal cicilan. Keduanya penting, tapi yang satu tidak bisa mengubah yang lain. Saya masih memikirkan hasil yang mungkin didapat teman yang berangkat. Begitu memang kalau tidak ikut, yang terbayang selalu ikan banyak, bukan perjalanan pulangnya.
Emotion
Anak perempuan saya menunjukkan tugas sekolahnya, tulisannya rapi sekali sampai saya baca dua kali dengan lambat. Dia menunggu sambil menjelaskan gambar di pinggir kertas, tidak sadar bapaknya sedang bangga sekali. Saya bilang bagus, lalu tanya apakah gurunya sudah lihat. Sesudah dia pergi saya masih pegang bukunya. Dulu ibu saya juga menyimpan ijazah SMP begitu baik, padahal saya sudah ingin terus melaut. Senang melihat anak suka sekolah, tapi ada rasa kecil seperti tertinggal kalau dia menjelaskan kata yang saya tidak tahu. Tidak saya katakan padanya. Saya minta dia baca lagi bagian yang paling dia suka, supaya bisa ikut mendengar dengan benar.